Kami Siap Melayani Anda cs@kharimgroup.com
0823-1378-8080

Penyakit Yang Sering Menyerang Ayam dan Cara Pencegahannya

Dalam usaha peternakan ayam, menjaga kesehatan ternak merupakan hal yang sangat penting. Penyakit pada ayam dapat menyebabkan pertumbuhan terganggu, penurunan produksi bahkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Oleh karena itu, peternak perlu mengenali beberapa jenis penyakit yang umum menyerang ayam agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan sejak dini.

a. Tetelo (Newcastle Disease)
Tetelo dapat menyerang ayam pada semua umur. Penyebabnya adalah virus Tortor vurens. Ayam yang terserang belum dapat diobati, karena Tetelo mudah menular dari satu ayam ke ayam lain. Penularan dapat terjadi melalui udara, kontak langsung dengan ayam sakit, makanan yang tercemar dan hewan liar seperti burung yang tidak sengaja masuk kandang.
Gejela umumnya yaitu lesu, nafsu makan berkurang, jengger pial kebiruan, sayap terkulai, keluar cairan dari hidung hingga susah bernafas, ngorok dan batuk. Kotoran cair kehijauan atau kekuningan. Setelah 1-2 hari kaki lumpuh, jalan seret dan leher terpuntir (tortikolis).
Tetelo dapat dicegah melalui pemberian vaksin secara teratur sesuai petunjuk. Jika kondisi ayam sudah sangat sakit maka harus dimusnakan/dibakar.

b. Gumboro (Infectious Bursal Disease)
Penyakit ini menyerang atau merusak kekebalan tubuh sehingga antibodi tidak terbentuk meskipun ayam sudah divaksin. Gumboro menyerang anak ayam umur 0-21 hari. Anak ayam yang terserang Gumboro kehilangan nafsu makan, gemetar, diare dan sulit berdiri. Bulu di sekitar anus kotor dan mematuk di sekitar kloaka.
Untuk pencegahannya lakukan vaksinasi Gumboro aktif pada umur 1 hari dan lanjutan pada umur 11 hari. Selain itu, jaga sanitasi kandang.

c. Cacar (Avian Pox/Fowl Pox/Avian Diphteri/Pokken Diphteria)
Cacar dapat menyerang ayam semua umur. Penyebabnya adalah virus famili Poxviridae. Gejalanya yaitu lesu, nafsu makan berkurang, produksi telur menurun drastis, suhu tubuh meninggi, kadang terjadi kelumpuhan dan kotoran encer.
Untuk menanggulanginya lakukan vaksinasi dengan vaksin cacar aktif (Diftosec CT) pada umur 4 minggu dengan cara tusuk gores sayap atau intramuskular. Kemudian beri vaksinasi penguat/booster (Diftosec CT) 3 bulan kemudian. Bila perlu sayat kutil-kutil sampai berdarah lalu olesi larutan yodium atau neo blue atau yodium tinctura sampai kutil kering, kisut dan lepas.
Sementara itu untuk diphteri, kerik Gumpalan dalam rongga mulut sampai lepas. Olesi luka dengan yodium tictura atau yood gliserin (yodium tincture dicampur gliserin dengan perbandingan 1:1).

d. Snot/Pilek (Infectious Coryza)
Snot muncul akibat perubahan musim dari kemarau ke hujan. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan dapat menyebabkan kematian. Gejalanya yaitu keluar cairan dari lubang hidung berbentuk encer atau kental, putih mata merah meradang sehingga membuat wajah ayam bengkak, mata memejam, suara ngorok, sulit bernapas dan pertumbuhan tidak normal.
Pencegahan Snot dapat dilakukan dengan vaksinasi pada umur 7-10 minggu dan 14 minggu dengan vaksin Snot in-aktif (Haemovax 0,3 ml/ekor). Jangan mencampur ayam yang berbeda usia lebih dari 3 minggu. Beri obat jenis preparat sulfa, misal sulfonamines. Berikan pula antibiotik seperti eritromisin, oksitetrasiklin, dan quinolon. Gunakan dengan dosis sesuai petunjuk pabrik.

e. Berak Kapur (Pullorum disease)
Berak kapur menyerang anak ayam, terutama umur 1-10 hari. Pada ayam dewasa tidak terlihat gejala-gejala sakit. Ayam yang sembuh akan menjadi pembawa bibit penyakit.
Gejala berak kapur pada anak ayam, antara lain nafsu makan berkurang. Kotoran encer berwarna putih berlendir dan banyak melekat pada daerah anus. Ayam terlihat pucat, lemah, kedinginan dan bergerombol. Sayap tampak kusut dan menggantung. Jengger pucat dan berkerut berwarna keabu-abuan. Sementara pada ayam dewasa, berak kapur bisa menurunkan kesuburan dan daya tetas. Ayam depresi dan kotoran berwarna kuning.
Berak kapur dapat ditanggulangi dengan cara menjaga sanitasi kandang dan mesin tetas serta fumigasi dengan formaldelhida 40%. Bila ayam terkena sudah parah, sebaiknya dimusnahkan.

d. Berak Darah (Coccidiosis)
Berak darah banyak ditemukan pada kandang sistem litter yang basah, terutama di daerah dataran tinggi. Pemicunya adalah oocyt dari coccidia. Penyakit ini menyerang anak ayam semua umur, terutama anak ayam usia 4-5 minggu atau 9-14 minggu. Serangan terjadi pada alat pencernaan, usus halus dan usus buntu.
Gejelanya yaitu keluar darah dari anus, lemah, nafsu makan turun, sayap terkulai dan kotoran encer berwarna cokelat campur darah, dan bulu sekitar anus kotor. Ayam senang bergerombol di tepi atau sudut kandang dan kaki jongkok. Produksi telur menurun atau terhenti sama sekali. Terjadi kematian mendadak mencapai 20% dalam waktu 2-3 hari. Jika bangkai ayam dibelah maka permukaan serosa akan terlihat bintik-bintik pendarahan.
Penyakit mematikan itu dapat ditanggulangi dengan menjaga sanitasi kandang dan litter tetap kering. Berikan Noxal dosis 1 sendok makan dicampur 3,8 liter air. Berikan pula Coxistac dengan dosis 1 ons untuk 100 kg makanan. Pemberian dilakukan 1-2 minggu.
Obat lainnya adalah Saquadil-50 dosis 20 ml/3,2 liter air. Berikan dengan sistem 3:2:3 atau Embacox dosis 5 gram/liter air. Berikan selama 6 hari berturut-turut. Bisa juga menggunakan Aleccid dosis 1 ml/liter, berikan selama 4-5 hari berturut-turut. Semua obat sulfa sangat manjur melawan koksidiosis.

Sumber : Unggas Unggul Ayam-Itik- Puyuh Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Kementrian Pertanian Republik Indonesia 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *